Kupang, NTT – Flobamora Film Festival 2025 menghadirkan diskusi bertajuk “Go Viral or Go Home? Strategi Distribusi dan Pengarsipan di Era Digital” berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) pada Rabu (6/8), di Kampoeng Seni Flobamorata.
MTN Seni Budaya adalah program strategis nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
Keterlibatan MTN Seni Budaya di Flobamora Film Festival adalah dihadirkannya MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Gayatri Nadia dan Michael A. Chandra, dimoderatori oleh Irwan Sebleku. Sesi ini membedah tantangan dan strategi distribusi serta pentingnya pengarsipan karya film di tengah arus digital yang terus berkembang.

Diskusi dibuka oleh Vivian Idris, penasihat Flobamora Film Festival sekaligus perwakilan dari MTN Seni Budaya program nasional untuk pengembangan talenta seni dan budaya, termasuk film, seni rupa, sastra, seni pertunjukan, dan musik.
Dalam sambutannya, Vivian menekankan keterlibatan MTN Seni Budaya dalam mendukung ekosistem seni bagi talenta dari seluruh Indonesia untuk berkembang dari tingkat lokal hingga internasional.
Ia juga menyampaikan bahwa MTN Seni Budaya bekerja dengan pendekatan kolaboratif, memperkuat program yang sudah ada seperti Flobamora Film Festival, Minikino Film Week, hingga FFD.
“MTN Seni Budaya hadir bukan untuk membangun program baru, tapi untuk memperkuat ekosistem seni budaya yang telah berjalan. Harapannya, teman-teman tidak perlu pindah ke kota besar untuk mengembangkan karir di bidang seni dan budaya,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya perencanaan distribusi sejak awal proses produksi.
Festival menjadi pilihan strategis untuk mempertemukan film dengan audiens yang tepat, tetapi sifatnya kompetitif, sehingga kesiapan teknis dan artistik sangat diperlukan.
Michael A. Chandra mengungkapkan komunitas memiliki peran penting dalam membuka akses terhadap jaringan, program pemutaran, dan peluang distribusi yang lebih luas.
“Kerja distribusi dan pengarsipan tak bisa ditanggung sendiri. Komunitas harus punya peran khusus ada yang mengelola arsip, ada yang fokus pada distribusi. Inilah cara kita bertumbuh sebagai komunitas yang sehat dan saling dukung,” ujarnya.
Selain itu, pengarsipan film juga harus direncanakan sejak awal, bukan sekadar menyimpan, melainkan memberi ruang bagi karya untuk hidup lebih lama dan tetap relevan.

Dalam sesi berbagi diskusi yang dihadiri oleh 112 orang ini, perwakilan dari Komunitas UGU Maumere Romo Yohanes Maget, menyoroti perubahan pola pikir komunitasnya dalam mendistribusikan karya film.
“Dari awal kami mengunggah ke YouTube, kini kami lebih memilih jalur festival untuk menjaga nilai dan menghormati proses kreatif karya. Beberapa karya kami telah diputar di Flobamora Film Festival, Lampung, dan Jogja, dengan dukungan komunitas film lainnya,” ujarnya.

Sesi ini diakhiri dengan ajakan untuk melanjutkan diskusi lebih mendalam bersama narasumber. Ruang dan waktu telah disediakan agar para peserta bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, berbagi cerita, tantangan, dan strategi membangun ekosistem film yang berkelanjutan di wilayahnya masing-masing.
Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival
Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
Editor : Yose Bataona
