Kupang, NTT – Flobamora Film Festival 2025 menggelar diskusi bertajuk “Dari Skrip ke Set: Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan di Industri Film Indonesia” pada Jumat (8/9). Diskusi ini menghadirkan dua narasumber terkemuka di industri perfilman nasional, Hannah Al-Rasyid dan Kamila Andini dan dihadiri oleh lebih dari 111 peserta.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Flobamora Film Festival dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) yang dikelola Kementerian Kebudayaan lewat program MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh inspiratif untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif.
Salah satu topik utama yang dibahas adalah persoalan relasi kuasa dalam industri film. Kamila Andini mengungkapkan bahwa dalam beberapa produksi posisi sutradara kerap berada di atas artis atau pekerja lepas, sehingga berpotensi memunculkan ketimpangan yang merugikan pihak yang lebih lemah.
Hannah Al-Rasyid secara terbuka membagikan pengalamannya sebagai penyintas pelecehan seksual di industri, yang sering kali direspons secara “underground” karena keterbatasan ruang aman serta ancaman Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) terhadap korban yang bersuara.
“Kebanyakan pelaku adalah laki-laki, dan mereka tidak memahami kebutuhan khusus perempuan di ruang kerja ini,” ucap Hannah.

Upaya perbaikan terus dilakukan di lingkup industri, termasuk inisiatif Asosiasi Sutradara Indonesia yang kini memiliki prosedur operasional standar anti pelecehan seksual yang dapat diunduh secara publik. Bentuk penanganan lain yang telah diterapkan antara lain; penandatanganan pakta integritas, seminar tentang isu pelecehan seksual, penunjukan satu petugas khusus (point of contact) yang tidak berada dalam posisi relasi kuasa untuk menerima laporan dan pemasangan banner dan poster edukasi di lokasi produksi.

Diskusi juga menyoroti pentingnya keberagaman di industri film, di mana setiap orang memiliki proses, latar belakang, dan kontribusi berbeda. Para pembicara menegaskan perlunya mempercayai kekuatan kolektif perempuan untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Ketika saya ingin mengatakan sesuatu, saya bertanya kembali: sudah berapa banyak saya mendengar?,” ujar Kamila Andini
Ia menekankan pentingnya empati dan mendengarkan dalam membangun ruang aman. Sementara itu, perwakilan MTN Seni Budaya, Rain Cuaca, dalam sambutannya mengapresiasi diskusi ini.
“Flobamora Film Festival dipilih sebagai lokasi karena komunitas seni di wilayah ini telah lama aktif berkegiatan, menjadi tuan rumah festival terbesar di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini memiliki visi yang sejalan dengan MTN Seni Budaya,” ujarnya.
Acara ini diakhiri dengan ajakan untuk memperbanyak ruang-ruang diskusi terbuka yang memungkinkan berbagai pihak di industri film berbagi pengalaman, membangun solidaritas, dan bersama-sama melawan kekerasan serta pelecehan seksual di tempat kerja.

Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival
Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
Editor : Yose Bataona























