Tag: Flobamora Film Festival 2025

  • Flobamora Film Festival Mendorong Ruang Aman bagi Perempuan di Industri Film Indonesia

    Flobamora Film Festival Mendorong Ruang Aman bagi Perempuan di Industri Film Indonesia

    Kupang, NTT – Flobamora Film Festival 2025 menggelar diskusi bertajuk “Dari Skrip ke Set: Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan di Industri Film Indonesia” pada Jumat (8/9). Diskusi ini menghadirkan dua narasumber terkemuka di industri perfilman nasional, Hannah Al-Rasyid dan Kamila Andini dan dihadiri oleh lebih dari 111 peserta.

    Suasana diskusi “Dari Skrip ke Set” bersama Kamila Andini & Hannah Al-Rasyid, Doc. Tim Publikasi F3.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi Flobamora Film Festival dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) yang dikelola Kementerian Kebudayaan lewat program MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh inspiratif untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif.

    Salah satu topik utama yang dibahas adalah persoalan relasi kuasa dalam industri film. Kamila Andini mengungkapkan bahwa dalam beberapa produksi posisi sutradara kerap berada di atas artis atau pekerja lepas, sehingga berpotensi memunculkan ketimpangan yang merugikan pihak yang lebih lemah.

    Hannah Al-Rasyid secara terbuka membagikan pengalamannya sebagai penyintas pelecehan seksual di industri, yang sering kali direspons secara “underground” karena keterbatasan ruang aman serta ancaman Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) terhadap korban yang bersuara.

    “Kebanyakan pelaku adalah laki-laki, dan mereka tidak memahami kebutuhan khusus perempuan di ruang kerja ini,” ucap Hannah.

    Pemaparan materi oleh Hannah Al-Rasyid, Doc. Tim Publikasi F3.

    Upaya perbaikan terus dilakukan di lingkup industri, termasuk inisiatif Asosiasi Sutradara Indonesia yang kini memiliki prosedur operasional standar anti pelecehan seksual yang dapat diunduh secara publik. Bentuk penanganan lain yang telah diterapkan antara lain; penandatanganan pakta integritas, seminar tentang isu pelecehan seksual, penunjukan satu petugas khusus (point of contact) yang tidak berada dalam posisi relasi kuasa untuk menerima laporan dan pemasangan banner dan poster edukasi di lokasi produksi.

    Situasi peserta mendengarkan diskusi. Doc Tim Publikasi F3.

    Diskusi juga menyoroti pentingnya keberagaman di industri film, di mana setiap orang memiliki proses, latar belakang, dan kontribusi berbeda. Para pembicara menegaskan perlunya mempercayai kekuatan kolektif perempuan untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

    “Ketika saya ingin mengatakan sesuatu, saya bertanya kembali: sudah berapa banyak saya mendengar?,” ujar Kamila Andini  

    Ia menekankan pentingnya empati dan mendengarkan dalam membangun ruang aman. Sementara itu, perwakilan MTN Seni Budaya, Rain Cuaca, dalam sambutannya mengapresiasi diskusi ini.

    “Flobamora Film Festival dipilih sebagai lokasi karena komunitas seni di wilayah ini telah lama aktif berkegiatan, menjadi tuan rumah festival terbesar di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini memiliki visi yang sejalan dengan MTN Seni Budaya,” ujarnya.

    Acara ini diakhiri dengan ajakan untuk memperbanyak ruang-ruang diskusi terbuka yang memungkinkan berbagai pihak di industri film berbagi pengalaman, membangun solidaritas, dan bersama-sama melawan kekerasan serta pelecehan seksual di tempat kerja.

    Foto bersama pihak MTN, Narasumber dan tim Flobamora. Doc Tim Publikasi F3.
    Foto bersama pihak MTN, Narasumber dan tim Flobamora. Doc Tim Publikasi F3.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango

    Editor : Yose Bataona

  • MTN IkonInspirasi x Baomong Film Flobamora Film Festival Bahas Peran Produser di Era Digital

    MTN IkonInspirasi x Baomong Film Flobamora Film Festival Bahas Peran Produser di Era Digital

    Kupang, NTT – Baomong Film, salah satu rangkaian program Flobamora Film Festival 2025, berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) menghadirkan diskusi publik inspiratif terkait peran produser film di era digital, Kamis, (7/8).

    Obrolan hangat bersama Florence Giovani di Flobamora Film Festival, Doc. Tim Publikasi F3.

    Keterlibatan MTN Seni Budaya pada Flobamora Film Festival adalah dihadirkannya MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif.

    Dengan mengangkat tema “Produser di Era Digital: Antara Kreativitas dan Teknologi”, sesi ini menghadirkan produser muda progresif Indonesia, Florence Giovani pendiri Studio Antelope, dengan Elzy Grazia sebagai moderator.

    Florence Giovani berbagi pengalaman produser film di era digital, Doc. Tim Publikasi F3.

    MTN Seni Budaya adalah program strategis nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. 

    Diskusi yang membahas bagaimana kemajuan teknologi digital mengubah peran produser film secara signifikan, mulai dari pengembangan cerita, proses produksi, hingga strategi distribusi yang kini semakin terhubung dengan platform digital, yang dihadiri oleh 127 orang.

    Pada kesempatan ini, Florence Giovani, berbagi pengalaman memanfaatkan teknologi dan AI sebagai alat bantu yang mempercepat proses kerja tanpa menghilangkan sentuhan manusia (human touch) dalam karya film. 

    Ia mencontohkan pemakaian Artificial Intelligence (AI) untuk pembuatan storyboard yang kini bisa dilakukan lebih cepat dan dengan biaya lebih efisien, namun tetap memerlukan arahan kreatif dari pembuat film. 

    “AI sebaiknya diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti kreator. Ide, emosi, dan arah cerita harus lahir dari pembuat film. AI boleh membantu di tahap teknis seperti editorial atau memoles naskah, tapi keputusan kreatif dan rasa tetap milik manusia,” ujarnya.

    Pernyataan ini sejalan dengan semangat MTN Seni Budaya yang mendukung ekosistem kreatif di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi lintas disiplin dan generasi. Lebih lanjut, Ellen Rolinska Programmer Baomong Film mengatakan bahwa kolaborasi dengan MTN Seni Budaya dalam menghadirkan program seperti ini menjadi langkah penting bagi ekosistem film lokal. 

    “Kami ingin ruang ini menjadi tempat di mana generasi muda belajar langsung dari para praktisi, mendapatkan inspirasi, dan memahami bahwa teknologi dan kreativitas bisa berjalan beriringan,” ujarnya.

    Sementara itu, Adriana Ngailu, salah satu peserta diskusi, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi Baomong Film dan MTN Seni Budaya.

    “Diskusi ini sangat menarik, tentang cara produser menempatkan diri antara kreativitas dan teknologi dari narasumber langsung yang mumpuni. Dalam diskusi menjelaskan peranan AI membantu memberikan contoh template manajerial administrasi untuk bayangan pembuatan produksi film dan membuka wawasan saya tentang bagaimana teknologi bisa menjadi sahabat bagi proses kreatif,” ujarnya.

    Suasana diskusi bersama, Doc. Tim Publikasi F3.

    Dengan adanya dukungan MTN Seni Budaya, sesi Baomong Film kali ini diharapkan memberi wawasan praktis bagi generasi pembuat film berikutnya untuk tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas kreatif. Selain itu juga berkomitmen untuk terus menjadi wadah pertukaran gagasan yang mendorong kemajuan perfilman di wilayah Nusa Tenggara Timur.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango

    Editor : Yose Bataona

  • MTN Seni Budaya Hadirkan Ikon Inspirasi di Flobamora Film Festival

    MTN Seni Budaya Hadirkan Ikon Inspirasi di Flobamora Film Festival

    Kupang, NTT – Flobamora Film Festival 2025 menghadirkan diskusi bertajuk “Go Viral or Go Home? Strategi Distribusi dan Pengarsipan di Era Digital” berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya) pada Rabu (6/8), di Kampoeng Seni Flobamorata.

    MTN Seni Budaya adalah program strategis nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. 

    Keterlibatan MTN Seni Budaya di Flobamora Film Festival adalah dihadirkannya MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif. 

    Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Gayatri Nadia dan Michael A. Chandra, dimoderatori oleh Irwan Sebleku. Sesi ini membedah tantangan dan strategi distribusi serta pentingnya pengarsipan karya film di tengah arus digital yang terus berkembang.

    Diskusi bersama Gayatri Nadia dan Michael A. Chandra kupas tuntas distribusi serta arsip film era digital, Doc. Tim Publikasi F3.

    Diskusi dibuka oleh Vivian Idris, penasihat Flobamora Film Festival sekaligus perwakilan dari MTN Seni Budaya program nasional untuk pengembangan talenta seni dan budaya, termasuk film, seni rupa, sastra, seni pertunjukan, dan musik. 

    Dalam sambutannya, Vivian menekankan keterlibatan MTN Seni Budaya dalam mendukung ekosistem seni bagi talenta dari seluruh Indonesia untuk berkembang dari tingkat lokal hingga internasional. 

    Ia juga menyampaikan bahwa MTN Seni Budaya bekerja dengan pendekatan kolaboratif, memperkuat program yang sudah ada seperti Flobamora Film Festival, Minikino Film Week, hingga FFD.

    “MTN Seni Budaya hadir bukan untuk membangun program baru, tapi untuk memperkuat ekosistem seni budaya yang telah berjalan. Harapannya, teman-teman tidak perlu pindah ke kota besar untuk mengembangkan karir di bidang seni dan budaya,” ujarnya.

    Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya perencanaan distribusi sejak awal proses produksi. 

    Festival menjadi pilihan strategis untuk mempertemukan film dengan audiens yang tepat, tetapi sifatnya kompetitif, sehingga kesiapan teknis dan artistik sangat diperlukan.

    Michael A. Chandra mengungkapkan komunitas memiliki peran penting dalam membuka akses terhadap jaringan, program pemutaran, dan peluang distribusi yang lebih luas. 

    “Kerja distribusi dan pengarsipan tak bisa ditanggung sendiri. Komunitas harus punya peran khusus ada yang mengelola arsip, ada yang fokus pada distribusi. Inilah cara kita bertumbuh sebagai komunitas yang sehat dan saling dukung,” ujarnya.

    Selain itu, pengarsipan film juga harus direncanakan sejak awal, bukan sekadar menyimpan, melainkan memberi ruang bagi karya untuk hidup lebih lama dan tetap relevan.

    Peserta antusias ikuti diskusi distribusi dan pengarsipan karya film, Doc. Tim Publikasi F3.

    Dalam sesi berbagi diskusi yang dihadiri oleh 112 orang ini, perwakilan dari Komunitas UGU Maumere Romo Yohanes Maget, menyoroti perubahan pola pikir komunitasnya dalam mendistribusikan karya film. 

    “Dari awal kami mengunggah ke YouTube, kini kami lebih memilih jalur festival untuk menjaga nilai dan menghormati proses kreatif karya. Beberapa karya kami telah diputar di Flobamora Film Festival, Lampung, dan Jogja, dengan dukungan komunitas film lainnya,” ujarnya.

    Potret bersama narasumber dan tim Flobamora Film Festival 2025 usai sesi berbincang soal distribusi dan pengarsipan karya film, Doc. Tim Publikasi F3.

    Sesi ini diakhiri dengan ajakan untuk melanjutkan diskusi lebih mendalam bersama narasumber. Ruang dan waktu telah disediakan agar para peserta bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, berbagi cerita, tantangan, dan strategi membangun ekosistem film yang berkelanjutan di wilayahnya masing-masing.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango

    Editor : Yose Bataona

  • Flobamora Film Festival 2025 Resmi Dibuka: Kolaborasi Kreatif Sineas Muda NTT 

    Flobamora Film Festival 2025 Resmi Dibuka: Kolaborasi Kreatif Sineas Muda NTT 

    Kupang, NTT– Flobamora Film Festival 2025 bertema Kalunga sebagai simbol tumbuh dan berkembang film di NTT resmi dibuka oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Selasa (5/8), di Kampoeng Seni Flobamora Kota Kupang.

    Day 1 pemutaran film dalam rangkaian Flobamora Film Festival 2025 di Kampoeng Seni Flobamora,Doc. Tim Publikasi F3.

    Acara pembukaan menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menghubungkan para pelaku industri film, komunitas kreatif, dan masyarakat umum.

    Dalam sambutannya, Direktur Flobamora Film Festival Yedida A. Letedara mengucapkan selamat datang dan mengapresiasi para tamu yang hadir di Flobamora Film Festival tahun keempat ini.

    “Film Festival tahun ini mengusung tema “Kalunga” dari bahasa Sumba Timur yang berarti “tumbuh”. Kalunga melambangkan harapan, ketekunan, dan semangat merawat apa yang kami cintai yakni film di Nusa Tenggara Timur. Kami sadar, proses tumbuh tidak selalu cepat dan lurus, namun penuh dinamika yang membentuk ekosistem film di NTT,” ujarnya.

    Flobamora Film Festival diharapkan menjadi ruang pertemuan komunitas film dari seluruh NTT dari pemutaran di ruang kecil, layar tancap di kampung, hingga diskusi lintas perspektif. Festival ini bukan hanya menampilkan film-film pilihan, tetapi juga mendorong ruang bertumbuh bersama bagi penonton, pembuat film, pegiat, dan komunitas.

    Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena sangat mengapresiasi atas terselenggaranya Flobamora Film Festival yang menyediakan ruang bagi lahirnya karya dan ide-ide segar anak-anak muda NTT.

    “Saya hadir sebagai wujud dukungan bahwa kreativitas anak muda harus diberi ruang. Ke depan Kampoeng Seni akan dipergunakan setiap bulan untuk berbagai kegiatan kreatif, seperti film, tarian, dan musik. Terima kasih kepada Manajemen Talenta Nasional yang telah mendukung Flobamora Film Festival,” ujarnya.

    Suasana pembukaan Flobamora Film Festival 2025 oleh Gubernur NTT di Kampoeng Seni Flobamora, Doc. Tim Publikasi F3.

    Ia turut mengapresiasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dari Ditjen PPPK Kementerian Kebudayaan yang telah mendukung terlaksananya Flobamora Film Festival. Ia menilai kolaborasi ini sebagai wujud dukungan dalam mengembangkan ekosistem seni budaya di daerah, khususnya NTT.

    “Harapan kami, anak-anak muda mampu mengembangkan kemampuan, memanfaatkan fasilitas, dan bersinergi dengan pemerintah untuk menampilkan potensi terbaik, khususnya di bidang perfilman, hingga ke tingkat nasional dan global,”ujarnya lagi.

    Turut hadir dalam opening Flobamora Film Festival ketua DPRD Provinsi NTT Emilia J. Nomleni, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Noldi Pelokila, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi NTT, para pegiat seni dan film dari berbagai komunitas serta insan pers.

    Pengunjung dan penonton yang hadir dalam Flobamora Film Festival  mencapai 280 orang dengan jumlah 119 laki-laki dan 161 perempuan. 

    Pada special screening, sebagai pembuka rangkaian sinema, menampilkan tiga film yakni Pada Suatu Hari di Sebuah Halte sutradara Magdalena S. Eknarty Lando, Resilience Sutradara Mariemon Setiawan dan Roti Suci di Hari Sabtu Sutradara Emilianus U.K Patar dan Bonifasius M. Kolin.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
    Editor : Yose Bataona

  • FLOBAMORA FILM FESTIVAL 2025 : 120 PESERTA RAMAIKAN TALKSHOW KFK FILM LAB x MTN ASAHBAKAT “BIKIN FILM PERTAMA DARI IDE KE NASKAH”

    FLOBAMORA FILM FESTIVAL 2025 : 120 PESERTA RAMAIKAN TALKSHOW KFK FILM LAB x MTN ASAHBAKAT “BIKIN FILM PERTAMA DARI IDE KE NASKAH”

    KUPANG, NTT, Selasa(5/8) – Flobamora Film Festival menggelar ruang diskusi sinema yang kreatif melalui kolaborasi Program KFK Film LAB dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya).

    Kegiatan yang berlangsung di Aula Marungga 2 Hotel Sasando Kupang ini diikuti oleh sebanyak 120 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa, komunitas lokal hingga instansi pemerintah daerah.

    Talkshow KFK Film LAB x MTN Asahbakat “Bikin Film Pertama Dari Ide Ke Naskah”, Doc. Tim Publikasi F3.

    Program kolaborasi ini membuka ruang diskusi publik yang membahas proses kreatif lahirnya film pertama dari ide cerita, pengembangan cerita, hingga penyusunan naskah.

    Talkshow menghadirkan narasumber sineas nasional sekaligus mentor KFK Film Lab 2025, Jason Iskandar (Produser dan Founder Studio Antelope), Fanny Chotimah (Sutradara Film), dan Khozy Rizal (Sutradara Film) yang telah memenangkan penghargaan bergengsi di festival film kelas dunia.

    Direktur Flobamora Film Festival Yedida A. Letedara dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran para narasumber serta peserta dalam diskusi ini.

    “Kehadiran teman-teman sangat berarti dalam merayakan sinema Flobamora Film Festival serta belajar bersama dalam ruang kreatif ini. Kami juga mendapatkan banyak dukungan bukan saja dari Pemprov NTT tetapi juga dari para mitra yang sungguh terlibat demi kelancaran festival ini,” ujarnya.

    Ia turut mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (Ditjen PPPK). Lewat MTN Seni Budaya, Ditjen PPPK menghadirkan program terstruktur untuk membangun karier di dunia seni, khususnya film. MTN Seni Budaya juga menjangkau dan mengedukasi individu, pegiat, dan komunitas film dari berbagai daerah di NTT.

    MTN Seni Budaya adalah program prioritas nasional yang bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.

    Rambu Nitbani Programmer sekaligus moderator diskusi program ini mengungkapkan diskusi ini menjadi salah satu agenda penting dari Flobamora Film Festival.

    “Diskusi kolaborasi MTN AsahBakat dan KFK Film Lab menjadi ruang berharga bagi peserta untuk belajar langsung dari para filmmaker yang tahun ini menjadi mentor Film Lab 2025. Dalam dua sesi sharing, para pembicara membagikan perjalanan mereka di industri film, tantangan yang dihadapi, serta pengalaman yang menguatkan keyakinan mereka untuk terus berkarya,” ujarnya.

    Para narasumber dan moderator berbagi pengalaman dalam talkshow “Bikin Film Pertama: Dari Ide ke Naskah” , Doc. Tim Publikasi F3.

    Tak hanya itu, peserta juga mengenal peran Film Lab sebagai wadah pengembangan ide, membangun jejaring, serta memperkaya kreativitas melalui workshop dan pitching. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga memotivasi peserta untuk terus belajar dan menjadi bagian dari ekosistem film yang berkembang.

    Khozy Rizal dalam diskusi ini mengungkapkan ada proses panjang untuk membawa karyanya sampai ke festival. Film pertamanya mengangkat isu maskulinitas toxic.

    Selain MTN AsahBakat, keterlibatan MTN Seni Budaya di Flobamora Film Festival adalah dihadirkannya MTN IkonInspirasi yang mempertemukan peserta dengan tokoh untuk berbagi wawasan dan pengalaman kreatif.

    “Hal yang paling sulit adalah membangun kepercayaan kru tentang film yang akan kita buat dan visi untuk film yang kami buat dikirim ke beberapa festival, dan mempertemukan kami dengan banyak orang baru yang membuka wawasan,”ujarnya.

    Ketiga narasumber ini memberikan sudut pandang yang memperkaya wawasan peserta dalam diskusi ini yang berfokus pada perjalanan kreatif di balik lahirnya film pertama, mulai dari menemukan ide, membangun struktur cerita, hingga menghadapi tantangan yang muncul dalam penulisan naskah maupun produksi.

    Sesi Diskusi dalam talkshow, Doc. Tim Publikasi F3.

    Umbu Nababan peserta sekaligus alumni KFK Film Lab 2024 sangat berterima kasih dan mengapresiasi diskusi ini. Ia menilai dengan adanya sesi talkshow kolaborasi MTN Seni Budaya dapat menjadi ruang belajar bersama yang terbuka luas bagi siapapun.

    “Diskusi ini sangat menarik karena membuka wacana berpikir, menambah wawasan tentang bagaimana film pendek dan ekosistemnya bekerja, serta memahami proses lahirnya ide awal sebuah film. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat, terutama bagi teman-teman yang bercita-cita membuat film pendek baik sekadar untuk hobi maupun yang ingin serius di industri film,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa Film Lab 2024 menjadi workshop pertama yang ia ikuti dan membuka banyak peluang baru.

    “Pasca mengikuti Film Lab, saya bisa membuat film bersama beberapa lembaga dan bahkan lolos Kompetisi Film NTT. Saya sangat berterima kasih untuk ruang belajar di KFK Film Lab, ini kegiatan yang luar biasa dengan mentor-mentor yang sangat mendukung,” ujarnya

    Mewakili komunitasnya Ana Humba Community, ia juga menyampaikan event festival ini menjadi pemantik yang baik untuk menghidupkan ekosistem film di NTT secara keseluruhan.

    Program ini diharapkan dapat mendorong terciptanya ekosistem film yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk sesi diskusi, workshop komunitas, dan pemutaran film pilihan yang relevan dengan konteks lokal maupun nasional.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
    Editor : Yose Bataona

  • FLOBAMORA FILM FESTIVAL 2025: 120 PESERTA RAMAIKAN TALKSHOW KFK FILM LAB x MTN SENI BUDAYA “BIKIN FILM PERTAMA DARI IDE KE NASKAH”

    FLOBAMORA FILM FESTIVAL 2025: 120 PESERTA RAMAIKAN TALKSHOW KFK FILM LAB x MTN SENI BUDAYA “BIKIN FILM PERTAMA DARI IDE KE NASKAH”

    Kupang, NTT – Flobamora Film Festival menggelar ruang diskusi sinema melalui kolaborasi Program KFK (Komunitas Film Kupang) Film LAB dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya).

    KFK Film Lab x MTN Seni Budaya menghadirkan ruang belajar bersama sineas nasional, Doc. Tim Publikasi F3.

    MTN Seni Budaya sendiri merupakan program strategis nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.

    MTN Seni Budaya di Flobamora Film Festival menghadirkan MTN AsahBakat yang menghadirkan narasumber sineas nasional sekaligus mentor KFK Film Lab 2025, Produser dan Founder Studio Antelope Jason Iskandar; Sutradara Film Fanny Chotimah dan Sutradara Film Khozy Rizal.

    Direktur Flobamora Film Festival, Yedida A. Letedara dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran para narasumber serta peserta dalam diskusi ini.

    “Kehadiran teman-teman sangat berarti dalam merayakan sinema Flobamora Film Festival serta belajar bersama dalam ruang kreatif ini. Kami juga mendapatkan banyak dukungan bukan saja dari Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT)  tetapi juga dari para mitra yang sungguh terlibat demi kelancaran festival ini,” ujarnya.

    Ia mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya dengan dihadirkannya program MTN AsahBakat sebagai upaya dalam membangun karir di dunia seni, khususnya karya film, dengan mengedukasi serta menjangkau individu, baik umum serta pegiat film, maupun komunitas lokal dari sejumlah daerah di NTT. 

    Kegiatan ini dihadiri oleh 120 orang dengan jumlah 58 laki-laki dan 62 perempuan, baik dari berbagai komunitas, pelajar, insan media, maupun instansi pemerintah daerah. 

    Suasana talkshow yang dihadiri oleh 120 peserta yang aktif menyimak perjalanan ide menuju naskah, Doc. Tim Publikasi F3.

    Program kolaborasi ini membuka ruang diskusi publik yang membahas proses kreatif lahirnya film pertama dari ide cerita, pengembangan cerita, hingga penyusunan naskah.

    Rambu Nitbani Programmer sekaligus moderator diskusi program ini mengungkapkan diskusi ini menjadi salah satu agenda penting dari Flobamora Film Festival.

    “Diskusi kolaborasi MTN Seni Budaya lewat kegiatan MTN AsahBakat dan KFK Film Lab menjadi ruang berharga bagi peserta untuk belajar langsung dari para filmmaker yang tahun ini menjadi mentor Film Lab 2025. Dalam dua sesi sharing, para pembicara membagikan perjalanan mereka di industri film, tantangan yang dihadapi, serta pengalaman yang menguatkan keyakinan mereka untuk terus  berkarya,” ujarnya.

    Tak hanya itu, peserta juga mengenal peran Film Lab sebagai wadah pengembangan ide, membangun jejaring, serta memperkaya kreativitas melalui workshop dan pitching. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga memotivasi peserta untuk terus belajar dan menjadi bagian dari ekosistem film yang berkembang.

    Sesi interaktif membuka ruang dialog antara peserta dan sineas nasional, Doc. Tim Publikasi F3.

    Khozy Rizal dalam diskusi ini mengungkapkan ada proses panjang untuk membawa karyanya sampai ke festival. Film pertamanya mengangkat isu toxic maskulinitas.

    “Hal yang paling sulit adalah membangun kepercayaan kru tentang film yang akan kita buat dan visi untuk film yang kami buat dikirim ke beberapa festival, dan mempertemukan kami dengan banyak orang baru yang membuka wawasan,” ujarnya.

    Ketiga narasumber ini memberikan sudut pandang yang memperkaya wawasan peserta dalam diskusi ini yang berfokus pada perjalanan kreatif di balik lahirnya film pertama, mulai dari menemukan ide, membangun struktur cerita, hingga menghadapi tantangan yang muncul dalam penulisan naskah maupun produksi.

    Umbu Nababan peserta sekaligus alumni KFK Film Lab 2024 sangat berterima kasih dan mengapresiasi diskusi ini. Ia menilai dengan adanya sesi talkshow kolaborasi MTN Seni Budaya dapat menjadi ruang belajar bersama yang terbuka luas bagi siapapun.

    “Diskusi ini sangat menarik karena membuka wacana berpikir, menambah wawasan tentang bagaimana film pendek dan ekosistemnya bekerja, serta memahami proses lahirnya ide awal sebuah film. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat, terutama bagi teman-teman yang bercita-cita membuat film pendek baik sekadar untuk hobi maupun yang ingin serius di industri film,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa Film Lab 2024 menjadi workshop pertama yang ia ikuti dan membuka banyak peluang baru. 

    “Pasca mengikuti Film Lab, saya bisa membuat film bersama beberapa lembaga dan bahkan lolos Kompetisi Film NTT. Saya sangat berterima kasih untuk ruang belajar di KFK Film Lab, ini kegiatan yang luar biasa dengan mentor-mentor yang sangat mendukung,” ujarnya.

    Mewakili komunitasnya Ana Humba Community, ia juga menyampaikan event festival ini menjadi pemantik yang baik untuk menghidupkan ekosistem film di NTT secara keseluruhan.

    Program ini diharapkan dapat mendorong terciptanya ekosistem film yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk sesi diskusi, workshop komunitas, dan pemutaran film pilihan yang relevan dengan konteks lokal maupun nasional.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango

    Editor : Yose Bataona

  • 2 Hari Lagi! Flobamora Film Festival 2025: Merayakan Kalunga dengan Film Inklusif bagi Semua Kalangan

    2 Hari Lagi! Flobamora Film Festival 2025: Merayakan Kalunga dengan Film Inklusif bagi Semua Kalangan

    Kupang, NTT – Merayakan Kalunga sebagai simbol tumbuh dan berkembangnya perfilman di Nusa Tenggara Timur, Flobamora Film Festival siap hadir pada 5 sampai 9 Agustus 2025. 

    Dokumentasi F3 2024, foto bersama Prilly Latuconsina dan Bapak Mahendra dalam talkshow PMM x FFI x Flobamora Film Festival 2024

    Pada tahun ini Flobamora Film Festival hadir di tiga lokasi: Kampoeng Seni, Sasando Hotel dan Gedung PKK Provinsi NTT menghadirkan pemutaran film, diskusi serta berbagai program kolaboratif yang terbuka untuk semua kalangan.

    Flobamora Film Festival 2025 menayangkan 65 film yang berasal dari tingkat NTT maupun dari tingkat nasional hingga internasional. 

    Mulai dari Kompetisi Film NTT 8 film, Kompetisi Film Pelajar NTT 2 film, Layar Nusantara 41 film, Layar Internasional 14 film, KFK Film Lab, Baomong Film, Bakumpul Komunitas, hingga Bioskop Pasiar 15 film yang sudah dilaksanakan dalam menyongsong Flobamora Film Festival. 

    Komite Komunitas Film Kupang Emilianus U. K. Patar menegaskan tujuan utama penyelenggaraan Flobamora Film Festival adalah untuk mendekatkan film kepada masyarakat.

    “Festival ini ingin menjangkau sebanyak mungkin orang, termasuk mereka yang sebelumnya belum terbiasa mengakses film. Karena itu, kami mengadakan pemutaran di ruang-ruang terbuka yang mudah diakses masyarakat dan tanpa dipungut biaya. Kami memaksimalkan berbagai kanal komunikasi, dari media sosial, kerja sama dengan media massa, hingga radio lokal, agar festival ini bisa menyentuh berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.

    Festival ini memasuki tahun keempat penyelenggaraanya menghadirkan momentum pembelajaran dan perkembangan yang signifikan atas dasar semangat gotong royong. 

    Direktur Flobamora Film Festival, Yedida A. Letedara, mengapresiasi perjalanan panjang yang telah dilalui seluruh tim Flobamora Film Festival dalam mempersiapkan festival tahun ini.

    “Semangat yang diusung melalui Kalunga ini merupakan harapan bagi perfilman NTT agar terus bertumbuh, berkembang menjadi lebih baik dan menemukan ciri khasnya dalam menghadirkan cerita-cerita penting dari NTT kepada dunia dengan tidak melupakan isu penting untuk dibingkai menjadi sebuah film.” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa persiapan menuju festival tahun ini menghadirkan banyak momen berkesan bagi seluruh tim. 

    Foto bersama saat malam Awarding Night Flobamora Film Festival 2024

    “Pada tahun keempat ini, kami melihat perkembangan yang begitu pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Teman-teman sudah bisa mengelola program dan kegiatan lebih baik, banyak teman-teman yang bertumbuh baik secara skill maupun pengetahuan.”

    Ia berharap festival ini terus mendorong semangat serta kreativitas sineas NTT untuk menghasilkan cerita-cerita berkualitas dan unik. 

    Festival tahun ini kembali menghadirkan delapan program istimewa yang dirancang untuk memperkuat ekosistem perfilman di NTT.

    Adapun pemutaran film selama festival mengedepankan kurasi yang lebih general, inklusif, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk keluarga. 

    Menghadirkan film-film kompetisi seperti Kompetisi Film NTT dan Kompetisi Film Pelajar yang menjadi wadah bagi sineas muda menampilkan karya-karya baru dengan perspektif segar.

    Manager Program Flobamora Film Festival Tata Yunita menjelaskan bahwa tahun ini proses kurasi menjadi salah satu fokus utama.

    “Pada penyelenggaraan tahun ini, rasa ber-KALUNGA kami kukuhkan lebih kuat lagi. Kami menghadirkan film-film yang lebih general, inklusif, dan dapat dinikmati berbagai kalangan, termasuk keluarga. Tantangannya adalah memilih dari begitu banyak film berkualitas dengan isu-isu menarik agar tetap menghadirkan tayangan yang relevan, beragam, namun dapat dinikmati semua penonton,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti kehadiran filmmaker baru dalam Kompetisi Film NTT dan Kompetisi Film Pelajar. 

    “Kami sangat antusias melihat angin segar dari sineas-sineas muda yang mengangkat isu-isu baru dan segar. Ini menandai semangat regenerasi dan inovasi dalam perfilman di NTT,” tambahnya.

    Doc.F3 – KFK Film Lab 2024

    Flobamora Film Festival 2025 juga memperluas kolaborasi dengan berbagai partner nasional dan internasional seperti Clermont Ferrand, Changing Climate Changing Live, 100% Manusia, Festival Film Purbalingga, Papermoon Puppet , Papuan Voices, Orang-orang Kerumunan dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kemendikbud Ristek RI.

    Kolaborasi ini memperkaya spektrum tema festival dan menjadikan seluruh program pemutaran wajib diikuti oleh semua kalangan  penonton.

    Terbuka untuk Semua

    Seluruh rangkaian kegiatan ataupun program Flobamora Film Festival terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Flobamora Film Festival mengajak sineas muda, individu, komunitas, dan masyarakat luas untuk bergabung merayakan kekayaan budaya dan kreativitas NTT melalui film.

    Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival

    Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
    Editor : Yose Bataona