Kupang, NTT – Flobamora Film Festival menggelar ruang diskusi sinema melalui kolaborasi Program KFK (Komunitas Film Kupang) Film LAB dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya).

MTN Seni Budaya sendiri merupakan program strategis nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
MTN Seni Budaya di Flobamora Film Festival menghadirkan MTN AsahBakat yang menghadirkan narasumber sineas nasional sekaligus mentor KFK Film Lab 2025, Produser dan Founder Studio Antelope Jason Iskandar; Sutradara Film Fanny Chotimah dan Sutradara Film Khozy Rizal.
Direktur Flobamora Film Festival, Yedida A. Letedara dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran para narasumber serta peserta dalam diskusi ini.
“Kehadiran teman-teman sangat berarti dalam merayakan sinema Flobamora Film Festival serta belajar bersama dalam ruang kreatif ini. Kami juga mendapatkan banyak dukungan bukan saja dari Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) tetapi juga dari para mitra yang sungguh terlibat demi kelancaran festival ini,” ujarnya.
Ia mengapresiasi dukungan MTN Seni Budaya dengan dihadirkannya program MTN AsahBakat sebagai upaya dalam membangun karir di dunia seni, khususnya karya film, dengan mengedukasi serta menjangkau individu, baik umum serta pegiat film, maupun komunitas lokal dari sejumlah daerah di NTT.
Kegiatan ini dihadiri oleh 120 orang dengan jumlah 58 laki-laki dan 62 perempuan, baik dari berbagai komunitas, pelajar, insan media, maupun instansi pemerintah daerah.

Program kolaborasi ini membuka ruang diskusi publik yang membahas proses kreatif lahirnya film pertama dari ide cerita, pengembangan cerita, hingga penyusunan naskah.
Rambu Nitbani Programmer sekaligus moderator diskusi program ini mengungkapkan diskusi ini menjadi salah satu agenda penting dari Flobamora Film Festival.
“Diskusi kolaborasi MTN Seni Budaya lewat kegiatan MTN AsahBakat dan KFK Film Lab menjadi ruang berharga bagi peserta untuk belajar langsung dari para filmmaker yang tahun ini menjadi mentor Film Lab 2025. Dalam dua sesi sharing, para pembicara membagikan perjalanan mereka di industri film, tantangan yang dihadapi, serta pengalaman yang menguatkan keyakinan mereka untuk terus berkarya,” ujarnya.
Tak hanya itu, peserta juga mengenal peran Film Lab sebagai wadah pengembangan ide, membangun jejaring, serta memperkaya kreativitas melalui workshop dan pitching. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga memotivasi peserta untuk terus belajar dan menjadi bagian dari ekosistem film yang berkembang.

Khozy Rizal dalam diskusi ini mengungkapkan ada proses panjang untuk membawa karyanya sampai ke festival. Film pertamanya mengangkat isu toxic maskulinitas.
“Hal yang paling sulit adalah membangun kepercayaan kru tentang film yang akan kita buat dan visi untuk film yang kami buat dikirim ke beberapa festival, dan mempertemukan kami dengan banyak orang baru yang membuka wawasan,” ujarnya.
Ketiga narasumber ini memberikan sudut pandang yang memperkaya wawasan peserta dalam diskusi ini yang berfokus pada perjalanan kreatif di balik lahirnya film pertama, mulai dari menemukan ide, membangun struktur cerita, hingga menghadapi tantangan yang muncul dalam penulisan naskah maupun produksi.
Umbu Nababan peserta sekaligus alumni KFK Film Lab 2024 sangat berterima kasih dan mengapresiasi diskusi ini. Ia menilai dengan adanya sesi talkshow kolaborasi MTN Seni Budaya dapat menjadi ruang belajar bersama yang terbuka luas bagi siapapun.
“Diskusi ini sangat menarik karena membuka wacana berpikir, menambah wawasan tentang bagaimana film pendek dan ekosistemnya bekerja, serta memahami proses lahirnya ide awal sebuah film. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat, terutama bagi teman-teman yang bercita-cita membuat film pendek baik sekadar untuk hobi maupun yang ingin serius di industri film,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Film Lab 2024 menjadi workshop pertama yang ia ikuti dan membuka banyak peluang baru.
“Pasca mengikuti Film Lab, saya bisa membuat film bersama beberapa lembaga dan bahkan lolos Kompetisi Film NTT. Saya sangat berterima kasih untuk ruang belajar di KFK Film Lab, ini kegiatan yang luar biasa dengan mentor-mentor yang sangat mendukung,” ujarnya.
Mewakili komunitasnya Ana Humba Community, ia juga menyampaikan event festival ini menjadi pemantik yang baik untuk menghidupkan ekosistem film di NTT secara keseluruhan.
Program ini diharapkan dapat mendorong terciptanya ekosistem film yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk sesi diskusi, workshop komunitas, dan pemutaran film pilihan yang relevan dengan konteks lokal maupun nasional.
Informasi dan jadwal lengkap dapat diakses lewat akun Instagram resmi @flobamorafilmfestival
Penulis : Maria Yudistira W.B. Mango
Editor : Yose Bataona
Tinggalkan Balasan